UNTUK MEREKA

Banyak kaum intelektual mudah yang menimbah ilmu hanya akan menjadikan ilmu sebagai bahan perdebatan dalam dunia intelektual yang dianggap maju, sangat jarang kaum terpelajar berpikir untuk bagaimana merubah keadaan yang berubah dan berkembang, akan tetapi hanya dapat berbicara tentang konsep dan idealis kontemplatif dan tak tanggung-tanggung mengutip pernyataan sang tokoh yang di kagumi, seakan menjadikan pemikiran tokoh itu hal yang absolut. tak hayal jika multitafsir menghiasi setiap pemikiran, ada yang menjadikannya sebagai ideologi dan ada yang menjadikannya hanya sebatas pengetahuan, penolakan dan stigmatisasi terhadap ideologi itupun berkembang menjadi alasan dasar analisis dan saling menghujat satu dengan yang lain.

hal yang menarik bila kita bicara tentang ideologi, hingga perkembangan zaman saat ini pun ideologi masih saja ada yang menjadikannya hal yang tabu, hal ini menandakan bahwa keruntuhan demokrasi kini melanda negara-negara berkembang saat ini, penolakan terhadap ideologi fasis dan komunis menjadi kiasan sang intelektual, Marx menulis “Ada hantu bergentayangan di Eropa” hal ini menjadikan dunia berubah karena pernyataan tersebut menjadi teror. hantu yang dimaksud merupakan hantu komunisme, walaupun saat ini partai tersebut telah tidak ada, namun orangnya muncul bagai anak aman yang tak pernah lekang dengan zamannya sendiri.

jutaan orang dibunuh karena hantu tersebut, namun alih-alih para sejarawan dan intelektual kini kembali bertanya dan mengkaji ulang seraya mencari antitsesa baru terkait dengan paham ideologi yang satu ini. sejarah telah menenggelamkan tragedi pembantaian yang terkejam, akan tetapi sejarah sendiri yang mengembalikan dosa-dosanya, hingga saat ini tragedi berdarah tersebut masih menjadi traumatik oleh anak-anak dan korban eks tragedi tersebut, masyarakat terstugma bahwa tragedi tersebut murni kesalahan komunisme, dan melepaskan diri pada keterkaitan-keterkaitan dan hubungan-hubungannya, untuk mereka yang hingga saat ini tidak pernah menemukan keadilan sosial hanya karena peristiwa massa silam, dunia telah mencatatkan dan kritik serta cemohan yang kini bertubi-tubi muncul dipermukaan mendesak pemerintah untuk mentuntaskan hitam kelamnya sejarah. sejarah akan menyeret siapa yang pembohong dan tidak entah sampai kapan, cerita KUDETA dan pembantaian pastinya akan diungkapkan sendiri, bukan siapa-siapa tapi oleh sejarah itu sendiri, hukuman sosial seakan menjadi hukum Tuhan yang lahir dimuka bumi, dan manusia-manusia penuh dosa muncul bak orang suci yang tak ada dosa yang saling menhakimi dan menjastififkasi satu sama lain. ada hal yang ganjal untuk membaca tulisan para pakar sejarah tentang mereka-mereka yang dibunuh, negara lemah dalam membuka selebar-lebarnya kisah dibalik prahara.

tidak lain dan tidak bukan tulisan singkat ini hanya muncul atas kegelisahan penulis dalam membaca sejarah yang menurut penulis banyak menyimpan tabir-tabir sejarah yang sengaja diputuskan, hal ini merupakan sebuah bentuk pembodohan dan kemunduruan bangsa ini yang mendidik putra/putri bangsa ini dengan kejahatan yang berkedok agama, biar ramai-ramai kita menghujat yang benar dan membela yang salah, bukan berarti berniat membuka luka lama atau membela siapa, akan tetapi yang perlu ditegaskan bahwa pembunuhan dan atau pembantaian dengan dalil ideologi yang kemudian berimbas pada hukuman sosial merupakan hal yang tidak dibenarkan dalam kajian ilmu pengetahuan manapun, untuk mereka yang dibantai karena tuduhan berideologi yang menyimpang jikalau itu adalah rekayasa rezim dan sejarah, maka ku tundakkan kepala ku dan berkata pada pelaku siapa yang menhianati sejarah maka akan digiring dan diseret-seret oleh sejarah itu sendiri.

renungan anak negri.

 

Advertisements